BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Dalam Undang – Undang Republik Indonesi No.20 Tahun
2003 BAB 1 pasal 1 ayat 1 bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana
untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik
secara aktip mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual
keagamaan ,pengendalian diri ,kepribadian ,kecerdasan ,ahlak mulia secara
keterampilan yang diperlukan dirinya ,masyarakat bangsa dan negara.
Kualitas pendidikan di Indonesia saat ini sangat
memprihatinkan. Ini dibuktikan antara lain dengan data UNESCO (2000) tentang
peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu
komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan
per-kepala yang menunjukkan bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin
menurun. Di antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke-102
(1996), ke-99 (1997), ke-105 (1998) dan ke-109 (1999).
Menurut survei Political and Economic Risk
Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12
dari 12 negara di Asia. Posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Data yang
dilaporkan The World Economic Forum Swedia (2000), Indonesia memiliki daya
saing yang rendah, yaitu hanya menduduki urutan ke-37 dari 57 negara yang
disurvei di dunia. Dan masih menurut survei dari lembaga yang sama, Indonesia
hanya berpredikat sebagai follower bukan sebagai pemimpin teknologi dari 53
negara di dunia. Kualitas pendidikan Indonesia yang rendah itu juga ditunjukkan
data Balitbang (2003) bahwa dari 146.052 SD di Indonesia ternyata hanya delapan
sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Primary Years
Program (PYP).
Penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia
tentu tidak lepas dari peran dan kinerja seorang guru sebagai pengembang segala
potensi yang ada pada anak, disebabkan pendidik (guru) adalah seorang yang
langsung bersinggungan dengan peserta didik. Pada dasarnya keberhasilan
pelaksanaan pendidikan lebih banyak disebabkan faktor guru. Oleh sebab itu, untuk
kali ini penyusun akan mencoba memaparkan, menjelaskan, serta menyajikan
pembahasan yang berjudul “PERAN GURU DALAM PEMBELAJARAN”.
B.
Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pembahasan ini diantaranya:
1.
Bagaimana peran guru sebagai pendidik ?
2.
Bagaimana peran guru sebagai pengajar ?
3.
Bagaimana peran guru sebagai pembimbing
?
4.
Bagaimana peran guru sebagai pelatih ?
5.
Bagaimana peran guru sebagai penasehat ?
6.
Bagaimana peran guru sebagai model dan
teladan ?
7.
Bagaimana peran guru sebagai inovator ?
8.
Bagaimana peran guru sebagai motivator ?
9.
Bagaimana peran guru sebagai pembawa
cerita ?
10. Bagaimana peran guru sebagai emansipator ?
C.
Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan ini diantaranya:
1. Untuk
mengetahui peran guru sebagai pendidik;
2. Untuk
mengetahui peran guru sebagai pengajar;
3. Untuk
mengetahui peran guru sebagai pembimbing;
4. Untuk
mengetahui peran guru sebagai pelatih;
5. Untuk
mengetahui peran guru sebagai penasehat;
6. Untuk
mengetahui peran guru sebagai model dan teladan;
7. Untuk
mengetahui peran guru sebagai inivator;
8. Untuk
mengetahui peran guru sebagai motivator;
9. Untuk
mengetahui peran guru sebagai pembawa cerita;
10. Untuk
mengetahui peran guru sebagai emansipator.
D.
Manfaat
Penulisan
Adapun manfaat penulisan ini diantaranya:
1. Agar mahasiswa mengetahui peran guru sebagai
pendidik;
2. Agar mahasiswa mengetahui peran guru sebagai
pengajar;
3. Agar mahasiswa mengetahui peran guru sebagai
pembimbing;
4. Agar mahasiswa mengetahui peran guru sebagai
pelatih;
5. Agar mahasiswa mengetahui peran guru sebagai
penasehat;
6. Agar mahasiswa mengetahui peran guru sebagai
model dan teladan;
7. Agar mahasiswa mengetahui peran guru sebagai
inivator;
8. Agar mahasiswa mengetahui peran guru sebagai
motivator;
9. Agar mahasiswa mengetahui peran guru sebagai
pembawa cerita;
10. Agar mahasiswa mengetahui peran guru
sebagai emancipator.
E.
Metode
Penulisan
Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini
adalah metode deskriptif analitik, yakni dengan mengungkapkan masalah-masalah
yang dikaji kemudian dianalisis berdasarkan pengetahuan teoritik penulis.
Teknik penulisan yang digunakan adalah kajian kepustakaan.
BAB
II
KAJIAN TEORI
Guru
sebagai pelaku utama dalam penerapan program pendidikan di sekolah memiliki
peran yang sangat penting dalam mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan. Dalam
proses belajar mengajar, guru mempunyai tugas untuk mendorong, membimbing, dan
memberi fasilitas belajar bagi murid-murid untuk mencapai tujuan. Guru
mempunyai tanggung jawab untuk melihat segala sesuatu yang terjadi dalam kelas
untuk membantu proses perkembangan anak. Pendidik adalah orang yang mengajar
dan membantu siswa dalam memecahkan masalah pendidikannya. Sedangkan menurut
kajian Islam, menurut Imam al-Ghazali
guru/pendidik adalah orang yang berusaha membimbing, meningkatkan, menyempurnakan,
segala potensi yang ada pada peserta didik. Serta membersihkan hati peserta
didik agar bisa dekat dan berhubungan dengan Allah SWT.
Pendidik/guru di indonesia sendiri lebih dikenal dengan istilah
pengajar, adalah tenaga kependidian yang berpartisipasi dalam menyelenggarakan
pendidikan dengan tugas khusus sebagi profesi pendidik. pendidik adalah
orang-orang yang dalam melaksanakan tugasnya akan berhadapan dan Perinteraksi
langsung dengan para peserta didiknya dalam suatu proses yang sistematis,
terencana, dan bertujuan.
Peran utama seorang guru adalah
menyampaikan ilmu pengetahuan sebagai warisan kebudayaan masa lalu yang
dianggap berguna sehingga harus dilestarikan. Guru mempunyai peran yang sangat
penting dalam proses pembelajaran, bagaimana pun hebatnya teknologi, peran guru
akan tetap diperlukan. Teknologi yang konon bisa memudahkan manusia mencari,
mendapatkan informasi, dan pengetahuan, tidak mungkin dapat mengganti peran
seorang guru.
Dalam keseluruhan kegiatan pendidikan,
guru merupakan penentu keberhasilan pendidikan. Sejalan dengan tugas utamanya
sebagai pendidik di sekolah, guru melakukan tugas-tugas kinerja pendidikan
dalam bimbingan, pengajaran, dan latihan. Semua kegiatan itu sangat terkait
dengan upaya pengembangan para peserta didik melalui keteladanan, penciptaan
lingkungan pendidikan yang kondusif, membimbing, mengajar, dan melatih peserta
didik. Dengan perkembangan dan tuntutan yang berkembang dewasa ini, peran-peran
guru mengalami perluasan, yaitu sebagai pelatih, konselor, manajer
pembelajaran, partisipan, pemimpin, dan pembelajar. Menurut Drs. H. Abu Ahmadi
dan Drs. Widodo Supriyono, peran guru dalam proses belajar berpust pada :
a. Mendidik anak dengan memberikan pengarahan dan
motivasi untuk mencapai tujuan, baik tujuan jangka pendek maupun tujuan jangka
panjang;
b. Memberi
fasilitas, media, pengalaman belajar yang memadai;
c. Membantu mengembangkan aspek-aspek kepribadian
siswa, seperti sikap, nilai-nilai, dan penyesuaian diri.
Demikianlah dalam proses
belajar mengajar, guru tidak terbatas hanya menyampaikan ilmu pengetahuan saja
akan tetapi lebih dari itu, ia bertanggung jawab akan keseluruhan perkembangan
kepribadian murid. Ia harus mampu menciptakan proses belajar yang sedemikian
rupa, sehingga dapat merangsang murid untuk belajar aktif dan dinamis dalam
memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan.
Mengingat peranannya yang
begitu penting, guru merupakan komponen paling menentukan dalam sistem
pendidikan secara keseluruhan, seperti yang di ungkapkan oleh Brand dalam
Educational Leadership menyatakan bahwa hampir semua usaha reformasi pendidikan
seperti pembaharuan kurikulum dan metode pembelajaran, semua bergantung kepada
guru.
BAB III
PEMBAHASAN
PERAN GURU
DALAM PEMBELAJARAN
Dalam
Standar Nasional Pendidikan ( SNP ) Pasal 28 ,di kemukakan bahwa : “ Pendidik
harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran
,sehat jasmani dan rohani ,serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan
pendidikan nasional”
A.
Guru Sebagai Pendidik
Dalam
Undang – Undang Guru ( pasal 1 ayat 1 ) dinyatakan bahwa : Guru adalah
pendidik profesional dengan tugas utama
mendidik ,mengajar ,membimbing ,mengarahkan ,melatih ,menilai ,dan mengevaluasi
peserta didik pada pendidikan anak usia dini ,jalur pendidikan formal
,pendidikan dasar ,dan menengah. Serta pendidik dalam Undang – Undang Sisdiknas
No. 20 Tahun 2003 di definisikan dengan tenaga kependidikan yang berkualifikasi
sebagai guru ,dosen ,konselor ,tutor , instruktur , fasilitator dan sebutan
lain yang sesuai dengan kekhususannya serta berpaertisipasi dalam
penyelenggaraan pendidikan.
Peran
guru sebagai pendidik merupakan peran – peran yang berkaitan dengan tugas –
tugas memberi bantuan dan dorongan ( suporter ) , tugas – tugas pengawasan dan
pembinaan ( supervisor ) serta tugas – tugas yang berkaitan dengan
mendisiplinkan anak agar anak itu menjadi patuh terhadap aturan – aturan
sekolah dan norma hidup dalam keluarga dan masyarakat. Tugas ini berkaitan
dengan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak untuk memperoleh
pengalaman – pengalaman lebih lanjut. Oleh karena itu guru dapat disebut
pendidik ,guru sebagai penanggung jawab mendisiplinkan anak harus mengontrol
setiap aktivitas anak – anak agar tinakah laku anak tidak menyimpang dengan
norma – norma yang ada.
Menurut Abdurrahman An
Nahlawi, dalam bukunya yang berjudul Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan
Masyarakat, agar seorang guru dapan menjalankan fungsinya sebagai pendidik,
maka ia harus memiliki sifat-sifat berikut ini:
1.
Setiap
pendidik harus memiliki sifat rabbani, yaitu memiliki ketaatan kepada Tuhan
Yang Maha Esa;
2.
Seorang
guru hendaknya menyempurnakan sifat rabbaniahnya dengan keikhlasan;
3.
Seorang
pendidik hendaknya mengajarkan ilmunya dengan sabar;
4.
Seorang
pendidik harus memiliki kejujuran dengan menerapkn apa yang dia ajarkan dalam
kehidupan pribadinya;
5.
Seorang
guru harus senantiasa meningkatkan wawasan, dan pengetahuannya;
6.
Seorang
pendidik harus cerdik dan terampil dalam menciptakan metode pengajaran yang
variatif serta sesuai dengan situasi dan materi pelajaran;
7.
Seorang
guru harus mampu bersikap tegas dan meletakkan sesuatu sesuai proporsinya;
8.
Seorang
guru dituntut untuk memahami psikologi anak didiknya;
9.
Seorang
guru dituntut untuk peka terhadap fenomena kehidupan sehingga dia mampu
memahami berbagai kecenderungan dunia beserta dampak dan akibatnya terhadap
anak didik;
10. Seorang guru dituntut untuk memiliki sikap adil
terhadap seluruh anak didiknya.
B.
Guru Sebagai Pengajar
Guru
adalah seseorang yang pekerjaannya mengajar .Maka , dalam hal ini guru yang di
maksudkan adalah guru yang memberi pelajaran atau memberi materi pelajaran pada
sekolah – sekolah formal dan memberikan pelajaran materi yang di wajibkan
kepada semua siswanya berdasarkan kurikulum yang ditetapkan. Guru harus
bertanggung jawab atas hasil kegiatan belajar anak melalui interaksi belajar
mengajar. Guru
merupakan faktor yang mempengaruhi berhasil atau tidaknya proses belajar dan
karenanya guru harus menguasai prinsip – prinsip belajar disamping menguasai
materi yang akan diajarkan. Dengan kata lain guru harus mampu menciptakan suatu
kondisi belajar yang sebaik – baiknya.
Kegiatan
belajar peserta didik dipengaruhi oleh berbagai faktor ,diantaranya :
1.
Motivasi;
2.
Kematangan ( hubungan peserta didik
dengan guru );
3.
Tingkat kebebasan;
4.
Rasa aman;
5.
Keterampilan guru dalamberkomunikasi.
Dalam
pembelajaran guru bertindak sebagai fasilitator dan motivator yang bersikap
akrab dengan penuh tanggung jawab serta memperlakukan peserta didik sebagai
mitra dalam menggali dan mengolah informasi menuju tujuan belajar mengajar yang
telah direncanakan.
Ada beberapa hal
yang harus dilakukan oleh seorang guru dalam pembelajaran , yaitu :
1. Membuat
ilustrasi;
2. Bertanya
dan merespon;
3. Menciptakan
kepercayaan;
4. Memberikan
pandangan yang bervariasi;
5. Menyediakan
media untuk mengkaji materi;
6. Menyesuaikan
metode pembelajaran.
C. Guru
Sebagai Pembimbing
Bimbingan adalah
proses pemberian bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman dan
pengarahan diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara
maksimum terhadap sekolah ,keluarga ,serta masarakat. Guru sebagai Pembimbing memberi tekanan kepada
tugas, memberikan bantuan kepada siswa dalam pemecahan masalah yang
dihadapinya. Tugas ini merupakan aspek mendidik, sebab tidak hanya berkenaan
dengan pengetahuan, tetapi juga menyangkut pengembangan kepribadian dan pembentukan
nilai-nilai para siswa.
Guru
dapat diibaratkan sebagai pembimbing perjalanan, yang berdasarkan pengetahuan
dan pengalamannya bertanggungjawab atas kelancaran perjalanan itu. Dalam hal
ini, istilah perjalanan tidak hanya menyangkut fisik tetapi juga perjalanan
mental, emosional, kreatifitas, moral dan spiritual yang lebih dalam dan
kompleks. Dalam
keseluruhan proses pendidikan guru merupakan faktor utama, sehubungan dengan
peranannya sebagai pembimbing, seorang guru harus :
1. Mengumpulkan
data tentang siswa;
2. Mengamati
tingkah laku siswa dalam kegiatan sehari – hari;
3. Mengenal
siswa yang memerlukan bantuan khusus;
4. Mengadakan
pertemuan atau hubungan dengan orangtua siswa baik secara individu maupun
kelompok untuk memperoleh saling pengertian tentang pendidikan anak;
5. Bekerjasama
dengan lembaga dan masyarakat lainnya untuk membantu memecahkan masalah siswa;
6. Membuat
catatan pribadi siswa serta menyiapkannya dengan baik;
7. Menyelenggarakan
bimbingan kelompok atau individu;
8. Menyusun
program bimbingan sekolah bersama – sama dengan petugas bimbingan lainnya;
9. Meneliti
kemajuan siswa baik di sekolah atau di luar sekolah.
D. Guru
Sebagai Pelatih
Proses
pendidikan dan pembelajaran memerlukan latihan keterampilan, baik intelektual
maupun motorik, sehingga menuntut guru untuk bertindak sebagai pelatih. Karena
tanpa latihan tidak akan mampu menunjukkan penguasaan kompetensi dasar, dan
tidak akan mahir dalam berbagai keterampilan yang dikembangkan sesuai dengan
materi standar. sebagai pelatih, guru memberikan peluang yang sebesar-besarnya
bagi peserta didik untuk mengembangkan cara-cara pembelajarannya sendiri
sebagai latihan untuk mencapai hasil pembelajaran yang optimal.
Guru harus
berperan sebagai pelatih , yang bertugas untuk melatih peserta didik dalam pembentukan
kompetensi dasar ,sesuai dengan kompetensi masing – masing. Pelatihan yang
dilakukan , disamping harus memperhatikan kompetensi dasar dan materi standar,
juga harus mampu memperhaikan perbedaan individual peserta didik , dan
lingkungannya.Untuk itu guru harus banyak tahu, meskipun tidak mencangkup semua
hal secara sempurna ,karena hal itu tidaklah mungkin.
E. Guru
Sebagai Penasehat
Dalam setiap langkah kehidupan, manusia
tidak terlepas dari masalah karena masalah adalah bagian dari manusia yang hidup.
Begitu pula halnya dengan peserta didik. Seringkali peserta didik mengalami
kesulitan-kesulitan, seperti kesulitan belajar, kesulitan memecahkan masalah
pribadi, kesulitan memecahkan masalah sosial, kesulitan mengambil keputusan,
kesulitan menemukan jati diri, dan sebagainya. Kesulitan tersebut pasti akan
mempengaruhi proses pembelajaran dan menentukan hasil dalam pencapaian tujuan.
Untuk itu seorang guru harus bertindak sebagai konsultan yang siap memberikan
nasihat kepada peserta didik.
Setiap
guru harus berperan sebagai penasihat ketika peserta didik memerlukannya, kapan
dan dimanapun guru berada. Hal ini dikarenakan guru adalah sebagai pen-transfer
nilai-nilai dan norma yang harus menunjukkan identitasnya sebagai guru. Peran
guru sebagai penasihat ini sangat diperlukan sekali, apalagi ketika di sekolah
tidak ada guru Bimbingan dan Konseling.
Guru adalah
seorang penasehat bagi peserta didik ,bahkan bagi orangtua ,meskipun mereka
tidak memiliki latihan khusus sebagai penasehat dan dalam beberapa hal tidak
berharap untuk menasehati orang lain. Menjadi guru pada tingkat manapun berarti
menjadi penasihat dan menjadi orang kepercayaan ,kegiatan belajarpun
meletakkannya pada posisi tersebut. Peserta didik senantiasa berhadapan dengan
kebutuhan untuk membuat keputusan ,dan dalam prosesnya akan lari kepada
gurunya. Dan makin efektif guru menangani setiap permasalahan ,makin banyak
kemungkinan peserta didik berpaling kepadanya untuk mendapatkan nasihat dan
kepercayaan diri.
F. Guru
Sebagai Model dan Teladan
Guru merupakan
model dan teladan bagi para peserta didik dan semua orang yang menganggap dia
sebagai guru. Sebagai teladan ,tentu saja pribadi dan apa yang dilakukan guru
akan mendapat sorotan peserta didik serta orang dilingkungan sekitarnya yang
menganggap dan mengakuinya guru.
Ada beberapa hal
yang mendapat perhatian guru dalam perannya
sebagai model dan teladan yaitu:
1. Gaya
kebiasaan guru bekerja;
2. Sikap
guru melalui pengalaman dan kesalahan yang dilakukan;
3. Penggunaan
gaya bahasa guru dalam berbicara;
4. Pakaian
yang menampakkan ekspresi seluruh kepribadian;
5. Hubungan
kemanusiaan (dalam hal pergaulan, intelektual moral terutama bagaimana,
berperilaku);
6. Proses
berpikir dalam hal menghadapi dan memecahkan masalah, dalam hal pengambilan
keputusan, kesehatan (semangat, sikap tenang, antusias dll).
G. Guru
Sebagai Inovator
Inovator
merupakan suatu pembaharuan dan pengembangan sistem ilmu pengetahuan ,jadi guru
sebagai inovator dalam pembelajaran merupakan suatu usaha kegiatan untuk
menjadikan siswa lebih baru dan berkembang dalam proses belajar mengajar ,sebagai
seorang inovator guru profesional selalu mempunyai ide – ide segar demi
kemajuan pembelajarannya dan anak didiknya.Ia selalu tak pernah kehabisan ide
untuk menemukan starategi ,metode atau cara – cara baru ,bahkan konsep – konsep
baru dalam pembelajaran.
H.
Guru Sebagai Motivator
Motivasi
merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran,
karena peserta didik akan sungguh-sungguh belajar apabila memiliki motivasi
yang tinggi. Pembangkitan nafsu atau selera belajar ini sering di sebut juga motivasi belajar.
Callahan and
Clark ( 1988 ) mengemukakan bahwa
motivasi adalah tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya
tingkah laku ke arah suatu tujuan tertentu.
Dengan
motivasi akan tumbuh dorongan untuk melakukan sesuatu dalam kaitannya untuk
mencapai tujuan.
Dalam proses
pembelajaran peserta didik terkadang tidak memiliki motivasi belajar. Motivasi dapat menyebabkan
terjadinya suatu perubahan energi yang ada pada diri manusia baik yang
menyangkut kejiwaan, perasaan ,maupun emosi dan kemudian bertindak untuk
mencapai tujuan. Sebagai motivator , guru harus mampu membangkitkan motivasi
belajar ,dengan memperhatikan prinsip- prinsip sebagai berikut :
1. Peserta
didik akan bekerja keras kalau memiliki minat dan perhatian terhadap pekerjaannya;
2. Memberikan
tugas yang jelas dan dapat di mengerti;
3. Memberikan
penghargaan terhadap hasil kerja dan prestasi peserta didik;
4. Menggunakan
hadiah ,dan hukuman secara efektif dan tepat guna;
5. Memberikan
penilaian yang adil dan transfaran
Sehubungan
dengan motivasi Maslow menyusun suatu teori tentang kebutuhan manusia yang
bersifat hirarkis dan dikelompokan menjadi 5 tingkat, yaitu :
a.
Kebutuhan fisiologis ,yaitu kebutuhan
utama yang biasa di kenal dengan kebutuhan dasar . Kebutuhan ini paling rendah
tingkatannya dan
memerlukan pemenuhan yang mendesak ,misalnya makan, minuman ,air ,dan udara.
b.
Kebutuhan rasa aman ,yaitu suatu
kebutuhan yang mendorong individu untuk memperoleh ketentraman, kepastian
,keteraturan dari keadaan lingkugannya. Misalnya kebutuhan akan pakaian,tempat
tinggal ,dan perlindungan atas tindakan yang sewenang – wenang.
c.
Kebutuhan kasih sayang ,yaitu kebutuhan
ini mendorong individu untuk mengadakan hubungan afektif atau ikatan emosional
dengan individu lain , baik dengan yang sesama jenis maupun yang berlawanan
jenis, di lingkungan keluarga atau pun lingkungan masyarakat ,misalnya rasa di
sayangi ,di terima ,dan di butuhkan oleh orang lain.
d.
Kebutuhan akan rasa harga diri ,yaitu
kebutuhan ini terdiri dari 2 bagian . Pertama adalah penghormatan atau
penghargaan dari diri sendiri
,dan kedua adalah penghargaan dari orang lain. Misalnya hasrat untuk memperoleh kekuatan
pribadidan mendapat penghargaan atas apa-apa yang di lakukannya.
e.
Kebutuhan akan aktualisasi diri ,yaitu
merupakan kebutuhan yang paling tinggi dan akan muncul apabila keburuhan yang
ada di bawahnya sudah terpenuhi dengan baik. Misalnya seorang pemusik
menciptakan komposisi musik atau seorang ilmuan menemukan suatu teori yang
berguna bagi kehidupan. Aktualisasi
merupakan realisasi potensi yang di miliki ,yaitu latihan untuk menyalurkan
bakat hingga mencapai batas akhir.
Dalam
hubungannya dengan peningkatan kualitas pembelajaran ,teori Maslow ini dapat di
gunakan sebagai pegangan untuk melihat dan mengerti mengapa :
a) Peserta
didik yang lapar, sakit atau kondisi fisiknya tidak baik tidak memiliki
motivasi untuk belajar;
b) Peserta
didik lebih senang belajar dalam suasana yang menyenangkan;
c) Peserta
didik yang merasa di senangi ,di terima oleh teman atau kelomponya akan
memiliki minat belajar yang lebih di banding dengan peserta didik yang di
abaikan atau di kucilkan;
d) Keinginan
peserta didik untuk mengetahui dan memahami sesuatu tidak selalu terpenuhi.
Ada beberapa cara yang dapat
memotivasi dan membangkitkan nafsu belajar, diantaranya:
a) Peserta
didik akan belajar lebih giat apabila topik yang di pelajarinya menarik ,dan
berguna bagi dirinya;
b) Tujuan
pembelajaran harus di susun dengan jelas dan di informasikan kepada peserta
didik sehingga mereka mengetahui tujuan belajar;
c) Peserta
didik harus selalu di beritahu tentang kompetensi dan hasil belajarnya;
d) Pemberian
fujian dan hadiah lebih baik dari pada hukuman,namun sewaktu – waktu hukuman
juga di perlukan;
e) Manfaatkan
sikap ,cita – cita,rasa ingin tahu dan ambisi peserta didik;
f) Usahakan
untuk memperhatikan perbedaan individual peserta didik, misalnya perbedaan
kemampuan ,latar belakang dan sikap terhadap sekolah atau subjek tertentu;
g) Usahakan
untuk memenuhi kebutuhan peserta didik dengan jalan memperhatikan kondisi
fisik, memberikan rasa aman ,menunujukan bahwa guru memperhatikan mereka
,mengatur pengalaman belajar sedemikian rupa sehingga setiap peserta didik
pernah memperoleh kepuasan dan penghargaan, serta mengarahkan pengalaman
belajar ke arah keberhasilan, sehingga mencapai prestasi dan mempunyai
kepercayaan diri.
I. Guru
Sebagai Pembawa Cerita
Sudah menjadi
sifat manusia untuk mengenal diri dan menanyakan keberadaannya serta bagaimana
berhubungan dengan keberadaannya itu .Tidak mungkin bagi manusia hanya muncul
dalam lingkunganny
Dan berhubungan dengan lingkungan,
tanpa mengetahui asal usulnya. Semua itu di peroleh melalui cerita, guru tidak
takut menjadi alat untuk menyampaikan cerita – cerita tentang kehidupan ,karena
ia tahu sepenuhnya bahwa cerita itu sangat bermanfaat bagi manusia. Cerita
adalah cermin yang bagus dan merupakan tongkat pengukur. Dengan cerita manusia
bisa mengemati bagaimana memecahkan masalah yang sama dengan yang di hadapinya
,menemukan gagasan dan kehidupan yang nampak di perlukan oleh manusia lain,
yang bisa di sesuaikan dengan kehidupan mereka. Guru berusaha mencari cerita
untuk membangkitkan gagasan kehidupan di masa mendatang.
Sebagai pendengar, peserta didik
dapat mengidentifikisi watak-watak pelaku yang ada dalam cerita, dapat secara
objektif menganalisis, menilai manusia, kejadian-kejadian dan pikiran-pikiran.
Mereka bisa jatuh cinta dan menguji kemampuannya untuk mencintai, dapat
membenci, dapat mengetahui kekuatan yang menghancurkan rasa benci, memimpikan dan
mengetahui baiknya harapan serta tidak enaknya kekecewaan. Sehingga mampu
menggunakan kejadian di masa lalu untuk menginterpretasikan kejadian sekarang
dan yang akan datang. Jadi guru diharapkan mampu membawa peserta didik
mengikuti jalannnya cerita dengan berusaha membuat peserta didik memiliki
pandangan yang rasional terhadap sesuatu.
Pembawa cerita yang baik
mengandalkan kemampuan dan menyadari keterbatasan fisiknya agar mampu
mendapatkan keefektifan yang maksimal. la memahami kemampuan suaranya dan tahu
bagaimana menggunakannya, mampu memvariasikan irama dan volume suara, memilih
waktu pelompatan cerita, mengolah ide yang diperlukan, serta menggunakan
kata-kata secara tepat dan jelas.
J. Guru
Sebagai Emansipator
Emansipasi (
emansipator ) adalah pembebasan kaum budak menjadi kaum yang merdeka. Dengan
katalain emansipasi adalah persamaan hak. Sebagai kaum pendidik ,guru
seharusnya menyadari bahwa di dalam tugasnya terkandung unsur keadilan,
penggugah semangat peserta didik dan penerang dalam kegelapan generasi masa
depan. Dengan modal memahami potensi peserta didik ,menghormati setiap insan
,guru hendaknya menyadari bahwa kebanyakan manusia merupakan budak stagnasi
kebudayaan.
Dengan
kecerdikannya , guru mampu memahami potensi setiap insan dan menyadari kebanyakan
insan merupakan “budak” stagnasi kebudayaan . Ketik masyarakat membicarakan
rasa tidak senang kepada peserta didik tertentu guru harus mengenal kebutuhan
peserta didik tersebut akan pengalaman ,pengakuan dan dorongan.
Guru mengetahui
bahwa pengalaman ,pengakuan dan dorongan sering kali membebaskan peserta didik
dari “self image” yang tidak menyenangkan ,kebodohan dan dari perasaan tertolak
dan rendah diri. Guru
telah melaksanakan peran sebagai emansipator ketika peserta didik yang di
campakan secara moril dan mengalami berbagai kesulitan di bangkitkan kembali
menjadi pribadi yang percaya diri.
Ketika peserta didik hampir putus asa, diperlukan ketelatenan,
keuletan dan seni memotivasi agar timbul kembali kesadaran, dan bangkit lagi
harapannya.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1.
Peran guru sebagai pendidik merupakan
peran – peran yang berkaitan dengan tugas – tugas memberi bantuan dan dorongan
( suporter ) , tugas – tugas pengawasan dan pembinaan ( supervisor ) serta
tugas – tugas yang berkaitan dengan mendisiplinkan anak agar anak itu menjadi
patuh terhadap aturan – aturan sekolah dan norma hidup dalam keluarga dan
masyarakat.
2. Guru
adalah seseorang yang pekerjaannya mengajar .Maka , dalam hal ini guru yang di
maksudkan adalah guru yang memberi pelajaran atau memberi materi pelajaran pada
sekolah – sekolah formal dan memberikan pelajaran materi yang di wajibkan
kepada semua siswanya berdasarkan kurikulum yang ditetapkan
3. Bimbingan
adalah proses pemberian bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman dan
pengarahan diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara
maksimum terhadap sekolah ,keluarga ,serta masarakat.
4. Guru
harus berperan sebagai pelatih , yang bertugas untuk melatih peserta didik
dalam pembentukan kompetensi dasar ,sesuai dengan kompetensi masing – masing.
5. Guru
adalah seorang penasehat bagi peserta didik ,bahkan bagi orangtua ,meskipun
mereka tidak memiliki latihan khusus sebagai penasehat dan dalam beberapa hal
tidak berharap untuk menasehati orang lain. Menjadi guru pada tingkat manapun
berarti menjadi penasihat dan menjadi orang kepercayaan ,kegiatan belajarpun
meletakkannya pada posisi tersebut.
6. Guru
merupakan model dan teladan bagi para peserta didik dan semua orang yang
menganggap dia sebagai guru. Sebagai teladan ,tentu saja pribadi dan apa yang
dilakukan guru akan mendapat sorotan peserta didik serta orang dilingkungan
sekitarnya yang menganggap dan mengakuinya guru.
7. Inovator
merupakan suatu pembaharuan dan pengembangan sistem ilmu pengetahuan ,jadi guru
sebagai inovator dalam pembelajaran merupakan suatu usaha kegiatan untuk
menjadikan siswa lebih baru dan berkembang dalam proses belajar mengajar.
8. Guru
sebagai motivator bagi siswa dimana guru harus dapat membangkitkan semangat
belajar anak. Dengan motivasi akan tumbuh dorongan untuk melakukan sesuatu
dalam kaitannya untuk mencapai tujuan belajar.
9. Guru
sebagai pembawa cerita,
dimana
guru menjadi alat untuk memberikan informasi mengenai peristiwa masa lampau
maupun sekarang melalui cerita kepada peserta didiknya.
10. Guru sebagai emancipator aitu guru
seharusnya menyadari bahwa di dalam tugasnya terkandung unsur keadilan,
penggugah semangat peserta didik dan penerang dalam kegelapan generasi masa
depan.
B.
Rekomendasi
Untuk mahasiswa,
calon guru, dan pendidik seharusnya mengetahui dan memahami peranan-peranannya
dalam proses pembelajaran, agar proses pembelajaran dapat dicapai secara
optimal.
DAPTAR PUSTAKA
DR.
Nana Sudjana.Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. (Sinar Baru Algensindo
Offset: Bandung), 1989.
Mulyasa.
2005. Menjadi Guru Profesonal. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.
Mulyasa. 2008. Menjadi Guru Profesonal. Bandung:
PT Remaja Rosdakarya Offset .
Wsina Senjaya. 2008. Strategi Pembelajaran;
Berorientasi Standar ProsesPendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media
Group.
Marijan. 2010.
http://enewsletterdisdik.wordpress.com/2010/12/23/lima-e-sikap-guru-berkualitas/.
Muhadi, Umar. 2010.
http://umarmuhadi.blogspot.com/2010/10/guru-sebagai-penulis-naskah-sutradara.html.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar