TEMPER TANTRUM DAN KECEMASAN PADA ANAK USIA DINI
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Anak usia dini adalah sosok individu yang unik. Anak
Usia dini berada pada rentang usia 0-8 tahun. Pada masa ini anak berada di
periode keemasan perkembangan dan pertumbuhan. Hal ini tersebut dikarenakan pertumbuhan
dan perkembangan anak pada masa ini bergerak dengan cepat dan merupakan dasar
bagi perkembangan tahap selanjutnya (Depdiknas, USPN, 2004:4).
Perkembangan dan pertumbuhan pada individu ini
terdiri dari beberapa aspek, Salah satu aspek yang penting adalah
social-emosional (Sujiono, 2009 : 70-76). Aspek ini merupakan aspek penting
dalam perkembangan karakter dan kepribadian anak untuk menyesuaikan diri dengan
lingkungan. Salah satu ekspresi emosi dalam kehidupan social anak adalah
tempramen. Tempramen merupakan aspek social-emosional pada anak yang mendasari
perilaku ekspresi emosi maupun respon terhadap stimulus baik itu secara
internal maupun eksternal dari lingkungan (Dariyo, 2007 : 192).
Perkembangan aspek social-emosional yang optimal
dapat mempengaruhi perkembangan serta pertumbuhan aspek-aspek yang lain. Anak
dengan perkembangan social-emosional yang baik cenderung akan tumbuh menjadi
anak yang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan social. Secara psikologis
kebutuhan anak terpenuhi sehingga anak pun cenderung akan mengalami
perkembangan kognitif, fisik-motorik, bahasa, serta memiliki inisiatif dan
kreatif (Dariyo, 2007 : 192). Sebagai contoh seorang anak yang mendapatkan
dukungan social penuh dari keluarga dengan memberikan anak kesempatan bermain,bereksplorasi
dengan melakukan aktivitas-aktivitas yang dapat merangsang kognitif, fisik,
serta bahasa maka anak akan percaya diri ,memiliki harga diri serta diberikan
kesempatan mengekspresikan emosi dengan baik dan tidak berlebihan ketika berhadapan
dengan lingkungan social.
B. Rumusan
Masalah
1. Apa
yang dimaksud dengan temper tantrum dan kecemasan pada anak usia dini ?
2. Apa
penyebab temper tantrum dan kecemasan pada anak usia dini ?
3. Bagaimana
gejala temper tantrum dan kecemasan pada anak usia dini ?
4. Bagaimana
intervensi guru pada anak yang mengalami temper tantrum dan kecemasan ?
C. Tujuan
1. Untuk
mengetahui apa yang dimaksud dengan temper tantrum dan kecemasan pada anak
2. Untuk
mengetahui apa penyebab anak mengalami temper tantrum dan kecemasan
3. Untuk
mengetahui gejala anak temper tantrum dan rasa cemas pada anak
4. Untuk
mengetahui bagaimana intervensi guru dalam menghadapi anak temper tantrum dan
cema
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Temper Tantrum Dan Kecemasan Pada Anak
1.
Pengertian
Temper Tantrum
Temper
tantrum adalah ledakan kemarahan yang terjadi secara tiba-tiba, tanpa
terencana. Pada anak-anak, ini bukan hanya untuk mencari perhatian dari orang
dewasa saja. Ketika mengalami tantrum, anak-anak cenderung melampiaskan segala
bentuk kemarahannya. Baik itu menangis keras-keras, berteriak, menjerit-jerit,
memukul, menggigit, mencubit, dsb. Tantrum biasanya terjadi pada usia 2 dan 3
tahun, akan mulai menurun pada usia 4 tahun. Mereka biasanya mengalami ini
dalam waktu satu tahun. 23 sampai 83 persen dari anak usia 2 hingga 4 tahun
pernah mengalami temper tantrum.
Adapun
temper tantrum menurut para ahli ialah sebagai berikut :
1.
Menurut (Zaviera 2008)
Tantrum adalah suatu luapan emosi yang meledak – ledak
dan tidak terkontrol. Temper tantrum seringkali muncul pada anak suai 15 bulan
hingga 6 tahun.
Tantrum lebih mudah terjadi
pada anak - anak yang dianggap sulit dengan ciri - ciri memiliki kebiasaan
tidur, makan dan buang air besar yang tidak teratur, sulit menyukai situasi,
makanan dan orang - orang baru, lambat beradaptasi terhadap perubahan, suasana
hati lebih sering negative, mudah terprovokasi, gampang merasa marah dan sulit
dialihkan perhatiannya .
Tantrum adalah suatu
perilaku yang masih tergolong normal yang merupakan bagian dari
proses perkembangan, suatu
periode dalam perkembangan fisik, kognitif,dan emosi. Sebagai periode dari
perkembangan, tantrum pasti akan berakhir.
2.
Menurut (Hurlock 2000)
Umumnya anak kecil lebih
emosional dari pada orang dewasa karena pada usia ini anak masih relatif muda dan belum
dapat mengendalikan emosinya. Pada usia 2 - 4 tahun, karakteristik emosi anak
muncul pada ledakan marahnya atau temper tantrum.
Sikap yang ditunjukkan untuk
menampilkan rasa tidak senangnya, anak melakukan tindakan yang berlebihan,
misalnya menangis, menjerit - jerit,melemparkan benda, berguling - guling,
memukul ibunya atau aktivitas besar lainnya
Berdasarkan teori - teori di
atas
dapat disimpulkan
bahwa temper tantrum merupakan luapan emosi yang meledak - ledak
akibat suasana yang tidak menyenangkan yang dirasakan oleh anak. Ledakan emosi
tersebut dapat berupa menangis, menjerit - jerit,
melemparkan benda, berguling - guling, memukul ibunya atau aktivitas besar
lainnya.
2.
Pengertian
Kecemasan Pada Anak
Kecemasan
merupakan reaksi normal terhadap situasi yang sangat menekan kehidupan
seseorang. Kecemasan bisa muncul sendiri atau bergabung dengan gejala-gejala
lain dari berbagai gangguan emosi (Savitri Ramaiah, 2003:10).
Menurut
Kaplan, Sadock, dan Grebb (Fitri Fauziah & Julianti Widuri,2007:73)
kecemasan adalah respon terhadap situasi tertentu yang mengancam, dan merupakan
hal yang normal terjadi menyertai perkembangan, perubahan, pengalaman baru atau
yang belum pernah dilakukan, serta dalam menemukan identitas diri dan arti hidup.
B. Penyebab
Temper Tantrum Dan Kecemasan Pada Anak Usia Dini
1.
Penyebab
temper tantrum pada anak
Temper
tantrum biasa terjadi karena beberapa hal diantaranya adalah:
1.
Frustrasi.
Jangan
dikira hanya orang dewasa saja yang bisa frustrasi. Anak-anak pun mengalami hal
ini. Misalnya, anak-anak akan menjadi cepat marah manakala mereka tidak bisa
mencapai sesuatu yang sangat mereka inginkan. Dalam artian, mereka gagal.
Kegagalan memicu rasa frustrasi, dan akhirnya kemarahan itupun meledak.
2.
Lelah.
Anak-anak
yang kelelahan, akan menjadi mudah marah. Aktivitasnya yang padat dan sedikit
waktu bermain akan membuat anak-anak cepat marah dan emosi.
3.
Orangtua terlalu mengekang.
Sikap
orangtua yang terlalu banyak mendikte dan mengekang anak, juga dapat
berpengaruh bagi emosinya. Anak-anak yang merasa jenuh dengan kekangan
orangtuanya, suatu saat akan mencapai titik puncak kejenuhan. Dan marah-marah
adalah salah satu bentuk ledakan tersebut.
4.
Sifat dasar anak yang emosional.
Beberapa
anak mewarisi sifat dasar emosional dari orangtuanya. Mereka ini cenderung
tidak sabaran, gampang marah meski karena hal-hal kecil.
5.
Keinginan tak dipenuhi.
Salah
satu kesalahan yang sering kali dilakukan orangtua adalah mereka begitu
mudahnya membujuk anak-anak dengan iming-iming. Menangis sedikit, anak dibujuk
dengan es krim atau mainan. Akhirnya ini akan menjadi kebiasaan, dan anak-anak
mengenali pola ini. Suatu ketika, ia memiliki keinginan akan sesuatu, ia akan
menangis dan mengamuk jika keinginan tersebut tidak segera dipenuhi oleh
orangtuanya.
2.
Penyebab
kecemasan pada anak
1. Masalah dalam hidup
Gangguan kecemasan pada anak berpotensi akibat orang
tua yang perfeksionis atau terlalu kritis. Jika anak-anak hanyak mendapatkan
sedikit penghargaan dari orang tua, maka mereka akan bereaksi dengan perilaku
cemas.
2. Masalah
Fisiologis
Gangguan
kecemasan ini bisa muncul akibat faktor keturunan. Kecemasan bisa pula
disebabkan adanya ketidakseimbangan kimiawi dalam otak. Bebabagai masalah
kesehatan akan memicu kecemasan pada anak.
3. Faktor
Lingkungan
Tempat
yang biasa di tempati dan orang-orang di sekelilingnya bisa menjadi faktor
seseorang mengalami kecemasan dengan berbagai peristiwa yang terjadi
dilingkungannya itu .Contoh diantaranya termasuk peristiwa trauma dan stress,
perceraian, kematian orang yang dicintai, dan perubahan suasana di sekolah.
4. Kepribadian
Kepribadian
memainkan peran utama pada timbulnya gangguan kecemasan. Orang-orang yang
rendah diri lebih rentan terhadap gangguan kecemasan, karena terus menerus
berpikir negative juga dapat menimbulkan gangguan kecemasan.
C. Gejala Temper Tantrum Dan Kecemasan Pada Anak Usia
Dini
1.
Gejala
temper tantrum
Anak Temper Tantrum biasanya menunjukkan sikap suka cemberut
dan mudah marah saat sedang bermain dengan teman-temannya. Hal-hal yang
menenangkan anak seperti pelukan, perhatian, dan pendekatan khusus tidak dapat
memperbaiki suasana hatinya.
Ketika dia menginginkan suatu hal yang dirasa tidak akan
dipenuhi orang tuanya, dia melakukan cara diluar kebiasaan seperti mengamuk,
memukul-mukulkan tangannya atau kepalanya, membanting seluruh perabotan rumah
dan juga selalu merengek sampai menangis berguling-guling jika keinginannya
tidak diiyakan oleh orangtuanya.
Untuk
mengekspresikan kemarahannya,
biasanya mereka akan berbaring di lantai, menendang, berteriak, menggigit,
mencubit, dan terkadang menahan napas. Tantrum ini bukan hanya untuk mencari
perhatian orang dewasa saja, tapi juga cenderung melampiaskan kemarahannya.
Normalnya,
tantrum atau marah-marah pada anak hanya terjadi sekitar 30 detik sampai 2 menit saja. Namun, jika kemarahan
berlanjut sampai pada tingkat yang membahayakan dirinya atau orang lain, maka
bisa menjadi hal yang sangat serius.
2.
Gejala kecemasan pada anak
1. Berdebar
diiringi dengan detak jantung yang cepat
Kecemasan
memicu otak untuk memproduksi adrenalin secara berlebihan pada pembuluh darah
yang menyebabkan detak jantung semakin cepat dan memunculkan rasa berdebar.
Namun dalam beberapa kasus yang ditemukan individu yang mengalami gangguan
kecemasan kontinum detak jantung semakin lambat dibandingkan pada orang normal.
2. Rasa
sakit atau nyeri pada dada
Kecemasan
meningkatkan tekanan otot pada rongga dada. Beberapa individu dapat merasakan
rasa sakit atau nyeri pada dada, kondisi ini sering diartikan sebagai tanda
serangan jantung yang sebenarnya adalah bukan. Hal ini kadang menimbulkan rasa
panik yang justru memperburuk kondisi sebelumnya.
3.
Rasa sesak napas
Ketika
rasa cemas muncul, syaraf-syaraf impuls bereaksi berlebihan yang menimbulkan
sensasi dan sesak pernafasan, tarikan nafas menjadi pendek seperti kesulitan
bernafas karena kehilangan udara.
4.Berkeringat
secara berlebihan
Selama
kecemasan muncul terjadi kenaikan suhu tubuh yang tinggi. Keringat yang muncul
disebabkan otak mempersiapkan perencanaan terhadap stressor.
5. Gangguan
pada saat tidur
6. Tubuh
gemetar
Gemetar
adalah hal yang dapat dialami oleh orang-orang yang normal pada situasi yang
menakutkan atau membuatnya gugup, akan tetapi pada individu yang mengalami
gangguan kecemasan rasa takut dan gugup tersebut terekspresikan secara berlebihan,
rasa gemetar pada kaki, atau lengan maupun pada bagian anggota tubuh yang lain.
7. Tangan
atau anggota tubuh menjadi dingin dan bekeringat
8. Kecemasan
depresi memunculkan ide dan keinginan untuk bunuh diri
9.
Gangguan kesehatan seperti sering merasakan sakit kepala (migrain).
D. Intervensi Guru Terhadap Anak Temper Tantrum Dan Mengalami
Kecemasan
1.
Intervensi Guru
terhadap Temper Tantrum pada anak
1. Cari tahu
penyebabnya.
Dengan
mengetahui penyebab anak-anak mengamuk, kita akan mudah menentukan langkah yang
harus kita ambil dalam menghadapi mereka.
2. Jangan ikut
emosi.
Biasanya,
orangtua akan ikut-ikutan menjadi emosi manakala anak mereka mengamuk. Orangtua
bisa memukul, mencubit, Anak-anak bukannya akan belajar mengatasi kemarahan
mereka, tapi malah semakin menganggap orangtuanya jahat.
3. Abaikan dan
ajari anak mengatasi kemarahannya.
Jangan
turuti semua hal yang diinginkan pada saat itu juga. Bersikap cuek dan tidak
memperdulikan kemarahannya, sebenarnya adalah cara yang sangat jitu untuk membuatnya
tahu, bahwa kemarahannya tidak bisa membeli keinginannya. Katakan padanya,
bahwa hanya anak-anak yang menyampaikan keinginan dengan cara yang baiklah yang
akan mendapatkan keinginannya itu dari Anda. Bukan dengan amukan, tangisan,
bahkan berguling-guling. Sikap tegas dan konsistensi Anda dengan sikap ini akan
membuatnya berlatih lebih disiplin.
4. Sudut diam.
Dalam
artian, bukan mengurung anak di kamar mandi atau di gudang. Tidak perlu main
kunci pintu atau rantai. Cukup sediakan sebuah kursi yang Anda sebut sebagai
kursi diam. Saat mengamuk, dudukkan anak disana, dan ia tidak boleh kemana-mana
sampai ia bisa menenangkan diri. Boleh juga meminta anak untuk masuk ke
kamarnya sendiri dan menenangkan diri. Ia boleh keluar dan kembali menyapa anda
setelah dia tenang
5. Hindari memukul
anak anda, lebih baik anda mendekap dengan pelukan sampai anak anda tenang
6. Temukan alasan kemarahan anak
anda sehingga anda dapat memberikan penjelasan yang sebenarnya
7. Sebaiknya
anda tidak menyerah ketika anak anda marah, karena anak akan melakukan tindakan
yang sama ketika menginginkan sesuatu lagi.
8 Hentikan memberikan anak anda imbalan ketika akan menghentikan kemarahannya.
9 Anda dapat mengarahkan kemarahan anak anda pada hal hal yang positif.
10 Anda dapat menyingkirkan benda benda yang berbahaya dari sekitar anak anda yang sedang marah
8 Hentikan memberikan anak anda imbalan ketika akan menghentikan kemarahannya.
9 Anda dapat mengarahkan kemarahan anak anda pada hal hal yang positif.
10 Anda dapat menyingkirkan benda benda yang berbahaya dari sekitar anak anda yang sedang marah
11 Anda harus membiasakan komunikasi yang terbuka dengan anak dan juga berikanlah pujian apabila kemarahannya telah selesai.
2.Intervensi guru terhadap kecemasan anak
1.
Kontrol pernafasan yang baik
Rasa
cemas membuat tingkat pernafasan semakin cepat, hal ini disebabkan otak
"bekerja" memutuskan fight or flight ketika respon
stres diterima oleh otak. Akibatnya suplai oksigen untuk jaringan tubuh semakin
meningkat, ketidakseimbangan jumlah oksigen dan karbondiosida di dalam otak
membuat tubuh gemetar, kesulitan bernafas, tubuh menjadi lemah dan gangguan
visual. Ambil dalam-dalam sampai memenuhi paru-paru, lepaskan dengan
perlahan-lahan akan membuat tubuh jadi nyaman, mengontrol pernafasan juga dapat
menghindari srangan panik.
2. Melakukan
relaksasi
Kecemasan
meningkatkan tension otot, tubuh menjadi pegal terutama pada
leher, kepala dan rasa nyeri pada dada. Cara yang dapat ditempuh dengan
melakukan teknik relaksasi dengan cara duduk atau berbaring, lakukan teknik
pernafasan, usahakanlah menemukan kenyamanan selama 30 menit.
3. Intervensi
kognitif
Kecemasan
timbul akibat ketidakberdayaan dalam menghadapi permasalahan, pikiran-pikiran
negatif secara terus-menerus berkembang dalam pikiran. caranya adalah dengan
melakukan intervensi pikiran negatif dengan pikiran positif, sugesti diri
dengan hal yang positif, singkirkan pikiran-pikiran yang tidak realistik. Bila
tubuh dan pikiran dapat merasakan kenyamanan maka pikiran-pikiran positif yang
lebih konstruktif dapat meuncul. Ide-ide kreatif dapat dikembangkan dalam
menyelesaikan permasalahan.
4. Pendekatan
agama
Pendekatan
agama akan memberikan rasa nyaman terhadap pikiran, kedekatan terhadap Tuhan
dan doa-doa yang disampaikan akan memberikan harapan-harapan positif.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Temper tantrum
adalah ledakan kemarahan yang terjadi secara tiba-tiba, tanpa terencana. Pada
anak-anak, ini bukan hanya untuk mencari perhatian dari orang dewasa saja. Ketika
mengalami tantrum, anak-anak cenderung melampiaskan segala bentuk kemarahannya.
Baik itu menangis keras-keras, berteriak, menjerit-jerit, memukul, menggigit,
mencubit.
Kecemasan
merupakan reaksi normal terhadap situasi yang sangat menekan kehidupan seseorang.
Kecemasan bisa muncul sendiri atau bergabung dengan gejala-gejala lain dari
berbagai gangguan emosi .
Penyebab temper
tantrum yaitu : lelah ,orangtua selalu mengekang, frustasi ,sifat dasar anak
emosional ,dan keinginan tak dipenuhi .Penyebab kecemasan pada anak : masalah
kehidupan ,fisiologis ,lingkungan dan kepribadian.
Gejala temper
tantrum mengekspresikan
kemarahannya, biasanya mereka akan
berbaring di lantai, menendang, berteriak, menggigit, mencubit, dan terkadang
menahan napas. Tantrum ini bukan hanya untuk mencari perhatian orang dewasa
saja, tapi juga cenderung melampiaskan kemarahannya. Gejala kecemasan pada anak
yaitu tubuh berkeringat secara berlebihan ,dada terasa sesak ,mengalami
gangguan tidur ,dan berdebar detak jantung secara cepat.
Intervensi
guru pada anak temper tantrum yaitu : cari tahu penyebabnya ,jangan ikut emosi
,ajari anak untuk tenang ,hindari memukul anak ,dan hentikan memberikan imbalan
pada anak saat menangis. Intervensi guru pada anak yang cemas yaitu : Kontrol
pernafasan yang baik ,melakukan relaksasi ,intervensi kognitip
,dan pendekatan agama
B.SARAN
Sebagai seorang guru
kita harus paham mengenai permasalahan yang di alami oleh setiap anak ,sehingga
kita dapat membantu mengatasi setiap permasalahan yang dialami oleh anak.