Rabu, 08 Juni 2016

TEMPER TANTRUM DAN KECEMASAN ANAK USIA DINI

TEMPER TANTRUM DAN KECEMASAN PADA ANAK USIA DINI

BAB  I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Anak usia dini adalah sosok individu yang unik. Anak Usia dini berada pada rentang usia 0-8 tahun. Pada masa ini anak berada di periode keemasan perkembangan dan pertumbuhan. Hal ini tersebut dikarenakan pertumbuhan dan perkembangan anak pada masa ini bergerak dengan cepat dan merupakan dasar bagi perkembangan tahap selanjutnya (Depdiknas, USPN, 2004:4).
Perkembangan dan pertumbuhan pada individu ini terdiri dari beberapa aspek, Salah satu aspek yang penting adalah social-emosional (Sujiono, 2009 : 70-76). Aspek ini merupakan aspek penting dalam perkembangan karakter dan kepribadian anak untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Salah satu ekspresi emosi dalam kehidupan social anak adalah tempramen. Tempramen merupakan aspek social-emosional pada anak yang mendasari perilaku ekspresi emosi maupun respon terhadap stimulus baik itu secara internal maupun eksternal dari lingkungan (Dariyo, 2007 : 192).
Perkembangan aspek social-emosional yang optimal dapat mempengaruhi perkembangan serta pertumbuhan aspek-aspek yang lain. Anak dengan perkembangan social-emosional yang baik cenderung akan tumbuh menjadi anak yang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan social. Secara psikologis kebutuhan anak terpenuhi sehingga anak pun cenderung akan mengalami perkembangan kognitif, fisik-motorik, bahasa, serta memiliki inisiatif dan kreatif (Dariyo, 2007 : 192). Sebagai contoh seorang anak yang mendapatkan dukungan social penuh dari keluarga dengan memberikan anak kesempatan bermain,bereksplorasi dengan melakukan aktivitas-aktivitas yang dapat merangsang kognitif, fisik, serta bahasa maka anak akan percaya diri ,memiliki harga diri serta diberikan kesempatan mengekspresikan emosi dengan baik dan tidak berlebihan ketika berhadapan dengan lingkungan social.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan temper tantrum dan kecemasan pada anak usia dini ?
2.      Apa penyebab temper tantrum dan kecemasan pada anak usia dini ?
3.      Bagaimana gejala temper tantrum dan kecemasan pada anak usia dini ?
4.      Bagaimana intervensi guru pada anak yang mengalami temper tantrum dan kecemasan ?

C.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan temper tantrum dan kecemasan pada anak
2.      Untuk mengetahui apa penyebab anak mengalami temper tantrum dan kecemasan
3.      Untuk mengetahui gejala anak temper tantrum dan rasa cemas pada anak
4.      Untuk mengetahui bagaimana intervensi guru dalam menghadapi anak temper tantrum dan cema



BAB  II
PEMBAHASAN
A.  Pengertian Temper Tantrum Dan Kecemasan Pada Anak
1.    Pengertian Temper Tantrum
Temper tantrum adalah ledakan kemarahan yang terjadi secara tiba-tiba, tanpa terencana. Pada anak-anak, ini bukan hanya untuk mencari perhatian dari orang dewasa saja. Ketika mengalami tantrum, anak-anak cenderung melampiaskan segala bentuk kemarahannya. Baik itu menangis keras-keras, berteriak, menjerit-jerit, memukul, menggigit, mencubit, dsb. Tantrum biasanya terjadi pada usia 2 dan 3 tahun, akan mulai menurun pada usia 4 tahun. Mereka biasanya mengalami ini dalam waktu satu tahun. 23 sampai 83 persen dari anak usia 2 hingga 4 tahun pernah mengalami temper tantrum.
Adapun temper tantrum menurut para ahli ialah sebagai berikut :
1. Menurut (Zaviera 2008)
Tantrum adalah suatu luapan emosi yang meledak – ledak dan tidak terkontrol. Temper tantrum seringkali muncul pada anak suai 15 bulan hingga 6 tahun.
Tantrum lebih mudah terjadi pada anak - anak yang dianggap sulit dengan ciri - ciri memiliki kebiasaan tidur, makan dan buang air besar yang tidak teratur, sulit menyukai situasi, makanan dan orang - orang baru, lambat beradaptasi terhadap perubahan, suasana hati lebih sering negative, mudah terprovokasi, gampang merasa marah dan sulit dialihkan perhatiannya .
Tantrum adalah suatu perilaku yang masih tergolong normal yang merupakan bagian dari proses perkembangan, suatu periode dalam perkembangan fisik, kognitif,dan emosi. Sebagai periode dari perkembangan, tantrum pasti akan berakhir.

2. Menurut (Hurlock 2000)
Umumnya anak kecil lebih emosional dari pada orang dewasa karena pada usia ini anak masih relatif muda dan belum dapat mengendalikan emosinya. Pada usia 2 - 4 tahun, karakteristik emosi anak muncul pada ledakan marahnya atau temper tantrum.
Sikap yang ditunjukkan untuk menampilkan rasa tidak senangnya, anak melakukan tindakan yang berlebihan, misalnya menangis, menjerit - jerit,melemparkan benda, berguling - guling, memukul ibunya atau aktivitas besar lainnya
Berdasarkan teori - teori di atas dapat disimpulkan bahwa temper tantrum merupakan luapan emosi yang meledak - ledak akibat suasana yang tidak menyenangkan yang dirasakan oleh anak. Ledakan emosi tersebut dapat berupa menangis, menjerit - jerit, melemparkan benda, berguling - guling, memukul ibunya atau aktivitas besar lainnya.
2.    Pengertian Kecemasan Pada Anak
Kecemasan merupakan reaksi normal terhadap situasi yang sangat menekan kehidupan seseorang. Kecemasan bisa muncul sendiri atau bergabung dengan gejala-gejala lain dari berbagai gangguan emosi (Savitri Ramaiah, 2003:10).
Menurut Kaplan, Sadock, dan Grebb (Fitri Fauziah & Julianti Widuri,2007:73) kecemasan adalah respon terhadap situasi tertentu yang mengancam, dan merupakan hal yang normal terjadi menyertai perkembangan, perubahan, pengalaman baru atau yang belum pernah dilakukan, serta dalam menemukan identitas diri dan arti hidup.



B.  Penyebab Temper Tantrum Dan Kecemasan Pada Anak Usia Dini
1.    Penyebab temper tantrum pada anak
Temper tantrum biasa terjadi karena beberapa hal diantaranya adalah:
1. Frustrasi.
Jangan dikira hanya orang dewasa saja yang bisa frustrasi. Anak-anak pun mengalami hal ini. Misalnya, anak-anak akan menjadi cepat marah manakala mereka tidak bisa mencapai sesuatu yang sangat mereka inginkan. Dalam artian, mereka gagal. Kegagalan memicu rasa frustrasi, dan akhirnya kemarahan itupun meledak.
2. Lelah.
Anak-anak yang kelelahan, akan menjadi mudah marah. Aktivitasnya yang padat dan sedikit waktu bermain akan membuat anak-anak cepat marah dan emosi.
3. Orangtua terlalu mengekang.
Sikap orangtua yang terlalu banyak mendikte dan mengekang anak, juga dapat berpengaruh bagi emosinya. Anak-anak yang merasa jenuh dengan kekangan orangtuanya, suatu saat akan mencapai titik puncak kejenuhan. Dan marah-marah adalah salah satu bentuk ledakan tersebut.
4. Sifat dasar anak yang emosional.
Beberapa anak mewarisi sifat dasar emosional dari orangtuanya. Mereka ini cenderung tidak sabaran, gampang marah meski karena hal-hal kecil.
5. Keinginan tak dipenuhi.
Salah satu kesalahan yang sering kali dilakukan orangtua adalah mereka begitu mudahnya membujuk anak-anak dengan iming-iming. Menangis sedikit, anak dibujuk dengan es krim atau mainan. Akhirnya ini akan menjadi kebiasaan, dan anak-anak mengenali pola ini. Suatu ketika, ia memiliki keinginan akan sesuatu, ia akan menangis dan mengamuk jika keinginan tersebut tidak segera dipenuhi oleh orangtuanya.
2.    Penyebab kecemasan pada anak
1.       Masalah dalam hidup
Gangguan kecemasan pada anak berpotensi akibat orang tua yang perfeksionis atau terlalu kritis. Jika anak-anak hanyak mendapatkan sedikit penghargaan dari orang tua, maka mereka akan bereaksi dengan perilaku cemas.
2.       Masalah Fisiologis
Gangguan kecemasan ini bisa muncul akibat faktor keturunan. Kecemasan bisa pula disebabkan adanya ketidakseimbangan kimiawi dalam otak. Bebabagai masalah kesehatan akan memicu kecemasan pada anak.
3.       Faktor Lingkungan
Tempat yang biasa di tempati dan orang-orang di sekelilingnya bisa menjadi faktor seseorang mengalami kecemasan dengan berbagai peristiwa yang terjadi dilingkungannya itu .Contoh diantaranya termasuk peristiwa trauma dan stress, perceraian, kematian orang yang dicintai, dan perubahan suasana di sekolah.
4.        Kepribadian
Kepribadian memainkan peran utama pada timbulnya gangguan kecemasan. Orang-orang yang rendah diri lebih rentan terhadap gangguan kecemasan, karena terus menerus berpikir negative juga dapat menimbulkan gangguan kecemasan.




C.  Gejala Temper Tantrum Dan Kecemasan Pada Anak Usia Dini
1.    Gejala temper tantrum
Anak Temper Tantrum biasanya menunjukkan sikap suka cemberut dan mudah marah saat sedang bermain dengan teman-temannya. Hal-hal yang menenangkan anak seperti pelukan, perhatian, dan pendekatan khusus tidak dapat memperbaiki suasana hatinya.
Ketika dia menginginkan suatu hal yang dirasa tidak akan dipenuhi orang tuanya, dia melakukan cara diluar kebiasaan seperti mengamuk, memukul-mukulkan tangannya atau kepalanya, membanting seluruh perabotan rumah dan juga selalu merengek sampai menangis berguling-guling jika keinginannya tidak diiyakan oleh orangtuanya.
 Untuk mengekspresikan kemarahannya, biasanya mereka akan berbaring di lantai, menendang, berteriak, menggigit, mencubit, dan terkadang menahan napas. Tantrum ini bukan hanya untuk mencari perhatian orang dewasa saja, tapi juga cenderung melampiaskan kemarahannya.
Normalnya, tantrum atau marah-marah pada anak hanya terjadi sekitar 30 detik sampai 2 menit saja. Namun, jika kemarahan berlanjut sampai pada tingkat yang membahayakan dirinya atau orang lain, maka bisa menjadi hal yang sangat serius.

2.    Gejala kecemasan pada anak
1. Berdebar diiringi dengan detak jantung yang cepat
Kecemasan memicu otak untuk memproduksi adrenalin secara berlebihan pada pembuluh darah yang menyebabkan detak jantung semakin cepat dan memunculkan rasa berdebar. Namun dalam beberapa kasus yang ditemukan individu yang mengalami gangguan kecemasan kontinum detak jantung semakin lambat dibandingkan pada orang normal.


2. Rasa sakit atau nyeri pada dada
Kecemasan meningkatkan tekanan otot pada rongga dada. Beberapa individu dapat merasakan rasa sakit atau nyeri pada dada, kondisi ini sering diartikan sebagai tanda serangan jantung yang sebenarnya adalah bukan. Hal ini kadang menimbulkan rasa panik yang justru memperburuk kondisi sebelumnya.
3. Rasa sesak napas
Ketika rasa cemas muncul, syaraf-syaraf impuls bereaksi berlebihan yang menimbulkan sensasi dan sesak pernafasan, tarikan nafas menjadi pendek seperti kesulitan bernafas karena kehilangan udara.
4.Berkeringat secara berlebihan
Selama kecemasan muncul terjadi kenaikan suhu tubuh yang tinggi. Keringat yang muncul disebabkan otak mempersiapkan perencanaan  terhadap stressor.
5.  Gangguan pada saat tidur  
6. Tubuh gemetar
Gemetar adalah hal yang dapat dialami oleh orang-orang yang normal pada situasi yang menakutkan atau membuatnya gugup, akan tetapi pada individu yang mengalami gangguan kecemasan rasa takut dan gugup tersebut terekspresikan secara berlebihan, rasa gemetar pada kaki, atau lengan maupun pada bagian anggota tubuh yang lain.
7. Tangan atau anggota tubuh menjadi dingin dan bekeringat
8.  Kecemasan depresi memunculkan ide dan keinginan untuk bunuh diri
9. Gangguan kesehatan seperti sering merasakan sakit kepala (migrain).


D.  Intervensi Guru Terhadap Anak Temper Tantrum Dan Mengalami Kecemasan
1.      Intervensi Guru terhadap Temper Tantrum pada anak

1. Cari tahu penyebabnya.
Dengan mengetahui penyebab anak-anak mengamuk, kita akan mudah menentukan langkah yang harus kita ambil dalam menghadapi mereka.
2. Jangan ikut emosi.
Biasanya, orangtua akan ikut-ikutan menjadi emosi manakala anak mereka mengamuk. Orangtua bisa memukul, mencubit, Anak-anak bukannya akan belajar mengatasi kemarahan mereka, tapi malah semakin menganggap orangtuanya jahat.
3. Abaikan dan ajari anak mengatasi kemarahannya.
Jangan turuti semua hal yang diinginkan pada saat itu juga. Bersikap cuek dan tidak memperdulikan kemarahannya, sebenarnya adalah cara yang sangat jitu untuk membuatnya tahu, bahwa kemarahannya tidak bisa membeli keinginannya. Katakan padanya, bahwa hanya anak-anak yang menyampaikan keinginan dengan cara yang baiklah yang akan mendapatkan keinginannya itu dari Anda. Bukan dengan amukan, tangisan, bahkan berguling-guling. Sikap tegas dan konsistensi Anda dengan sikap ini akan membuatnya berlatih lebih disiplin.
4. Sudut diam.
Dalam artian, bukan mengurung anak di kamar mandi atau di gudang. Tidak perlu main kunci pintu atau rantai. Cukup sediakan sebuah kursi yang Anda sebut sebagai kursi diam. Saat mengamuk, dudukkan anak disana, dan ia tidak boleh kemana-mana sampai ia bisa menenangkan diri. Boleh juga meminta anak untuk masuk ke kamarnya sendiri dan menenangkan diri. Ia boleh keluar dan kembali menyapa anda setelah dia tenang
5. Hindari memukul anak anda, lebih baik anda mendekap dengan pelukan sampai anak anda tenang
 6.  Temukan alasan kemarahan anak anda sehingga anda dapat memberikan penjelasan yang sebenarnya
7.  Sebaiknya anda tidak menyerah ketika anak anda marah, karena anak akan melakukan tindakan yang sama ketika menginginkan sesuatu lagi.
8   Hentikan memberikan anak anda imbalan ketika akan menghentikan kemarahannya.
9  Anda dapat mengarahkan kemarahan anak anda pada hal hal yang positif.
10   Anda dapat menyingkirkan benda benda yang berbahaya dari sekitar anak anda yang sedang marah

11    Anda harus membiasakan komunikasi yang terbuka dengan anak dan juga berikanlah pujian apabila kemarahannya telah selesai.

2.Intervensi guru terhadap kecemasan anak
1. Kontrol pernafasan yang baik
Rasa cemas membuat tingkat pernafasan semakin cepat, hal ini disebabkan otak "bekerja" memutuskan fight or flight ketika respon stres diterima oleh otak. Akibatnya suplai oksigen untuk jaringan tubuh semakin meningkat, ketidakseimbangan jumlah oksigen dan karbondiosida di dalam otak membuat tubuh gemetar, kesulitan bernafas, tubuh menjadi lemah dan gangguan visual. Ambil dalam-dalam sampai memenuhi paru-paru, lepaskan dengan perlahan-lahan akan membuat tubuh jadi nyaman, mengontrol pernafasan juga dapat menghindari srangan panik.
2. Melakukan relaksasi
Kecemasan meningkatkan tension otot, tubuh menjadi pegal terutama pada leher, kepala dan rasa nyeri pada dada. Cara yang dapat ditempuh dengan melakukan teknik relaksasi dengan cara duduk atau berbaring, lakukan teknik pernafasan, usahakanlah menemukan kenyamanan selama 30 menit.


3. Intervensi kognitif
Kecemasan timbul akibat ketidakberdayaan dalam menghadapi permasalahan, pikiran-pikiran negatif secara terus-menerus berkembang dalam pikiran. caranya adalah dengan melakukan intervensi pikiran negatif dengan pikiran positif, sugesti diri dengan hal yang positif, singkirkan pikiran-pikiran yang tidak realistik. Bila tubuh dan pikiran dapat merasakan kenyamanan maka pikiran-pikiran positif yang lebih konstruktif dapat meuncul. Ide-ide kreatif dapat dikembangkan dalam menyelesaikan permasalahan.
4. Pendekatan agama
Pendekatan agama akan memberikan rasa nyaman terhadap pikiran, kedekatan terhadap Tuhan dan doa-doa yang disampaikan akan memberikan harapan-harapan positif.
















BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN

Temper tantrum adalah ledakan kemarahan yang terjadi secara tiba-tiba, tanpa terencana. Pada anak-anak, ini bukan hanya untuk mencari perhatian dari orang dewasa saja. Ketika mengalami tantrum, anak-anak cenderung melampiaskan segala bentuk kemarahannya. Baik itu menangis keras-keras, berteriak, menjerit-jerit, memukul, menggigit, mencubit.
Kecemasan merupakan reaksi normal terhadap situasi yang sangat menekan kehidupan seseorang. Kecemasan bisa muncul sendiri atau bergabung dengan gejala-gejala lain dari berbagai gangguan emosi .
Penyebab temper tantrum yaitu : lelah ,orangtua selalu mengekang, frustasi ,sifat dasar anak emosional ,dan keinginan tak dipenuhi .Penyebab kecemasan pada anak : masalah kehidupan ,fisiologis ,lingkungan dan kepribadian.
Gejala temper tantrum mengekspresikan kemarahannya, biasanya mereka akan berbaring di lantai, menendang, berteriak, menggigit, mencubit, dan terkadang menahan napas. Tantrum ini bukan hanya untuk mencari perhatian orang dewasa saja, tapi juga cenderung melampiaskan kemarahannya. Gejala kecemasan pada anak yaitu tubuh berkeringat secara berlebihan ,dada terasa sesak ,mengalami gangguan tidur ,dan berdebar detak jantung secara cepat.
Intervensi guru pada anak temper tantrum yaitu : cari tahu penyebabnya ,jangan ikut emosi ,ajari anak untuk tenang ,hindari memukul anak ,dan hentikan memberikan imbalan pada anak saat menangis. Intervensi guru pada anak yang cemas yaitu : Kontrol pernafasan yang baik ,melakukan relaksasi ,intervensi kognitip ,dan pendekatan agama
B.SARAN
Sebagai seorang guru kita harus paham mengenai permasalahan yang di alami oleh setiap anak ,sehingga kita dapat membantu mengatasi setiap permasalahan yang dialami oleh anak.


Senin, 28 Maret 2016

Tugas Statistik 2 : Pengukuran berat dan tinggi badan anak usia dini di RA AL MAHFUD

BAB I
PENDAHULUAN

1    Latar Belakang
Dalam kehidupan anak ada dua proses yang beroperasi secara kontinu, yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Banyak orang yang menggunakan istilah “pertumbuhan” dan “perkembangan” secara bergantian. Kedua proses ini berlangsung secara interdependensi, artinya saling bergantung satu sama lain. 
Kedua proses ini tidak bisa dipisahkan dalam bentuk-bentuk yang secara pilah berdiri sendiri-sendiri; akan tetapi bias dibedakan untuk maksud lebih memperjelas penggunaannya.   Dalam hal ini kedua proses tersebut memiliki tahapan-tahapan diantaranya tahap secara moral dan spiritual. Karena pertumbuhan dan perkembangan peserta didik dilihat dari tahapan tersebut memiliki kesinambungan yang begitu erat dan penting untuk dibahas maka kita meguraikannya dalam bentuk struktur yang jelas baik dari segi teori sampai kaitannya dengan pengaruh yang ditimbulkan. 
Pertumbuhan berkaitan dengan masalah perubahan dalam ukuran fisik seseorang.Sedangkan perkembangan berkaitan dengan pematangan dan penambahan kemampuan fungsi organ. Kedua proses ini terjadi secara bersamaan pada setiap individu (Kissanti, 2008).
Aspek tumbuh kembang merupakan aspek yang menjelaskan mengenai proses pembentukan seseorang, baik secara fisik maupun psikososial. Namun sebagian orang tua belum memahami hal ini, terutama orang tua yang mempunyai tingkat pendidikan dan sosial ekonomi yang sangat rendah. Mereka menganggap bahwa selama anak tidak sakit, berarti anak tidak mengalami masalah kesehatan termasuk pertumbuhan dan perkembangan anak tersebut. Sering juga para orang tua mempunyai pemahaman bahwa pertumbuhan dan perkembangan mempunyai pengertian yang sama (Nursalam, 2005).
Mengetahui dan memahami tumbuh kembang anak tidak hanya melihat dari satu aspek saja, pemberian nutrisi atau gizi pada anak, tetapi lebih dari itu tumbuh kembang anak juga harus dilihat dari aspek faktor keturunan, kejiwaan, aturan dalam keluarga dan proses pembelajaran termasuk didalamnya pendidikan keluarga (Sunartyo, 2008).
Orang tua juga perlu memperhatikan sejumlah perkembangan motorik halus dan motorik kasar anak, serta sosialisasi dan bahasa anak dalam periode emas mereka. Gerak-gerik anak seperti menyusun menara kubus adalah salah satu gejala perkembangan motorik halusnya. Biasanya pada usia dua tahun, gerakan-gerakan tersebut dan kecerdasan anak dalam perkembangan sosialisasi mulai diperlihatkan. Satu perkembangan penting lainnya adalah kemampuan berbicara dan menunjuk gambar (Enterprises, 2008).
2.Rumusan Masalah
 1.Berapa nilai rata-rata ,nilai tengah ,nilai yang sering muncul ,nilai minimum ,nilai maksimum,dan selisih dari nilai minimum dan maksimum dari berat badan siswa-siswi RA AL MAHFUD semester  1 ?
2. Berapa nilai rata-rata ,nilai tengah ,nilai yang sering muncul ,nilai minimum ,nilai maksimum,dan selisih dari nilai minimum dan maksimum dari tinggi  badan siswa-siswi  RA AL MAHFUD semester  1 ?
3. Tujuan
            1. Untuk mengetahui  nilai rata-rata ,nilai tengah ,nilai yang sering muncul ,nilai minimum ,nilai maksimum,dan selisih dari nilai minimum dan maksimum dari berat badan siswa-siswi RA AL MAHFUD semester  1 .
2. . Untuk mengetahui  nilai rata-rata ,nilai tengah ,nilai yang sering muncul ,nilai minimum ,nilai maksimum,dan selisih dari nilai minimum dan maksimum dari tinggi  badan siswa-siswi RA AL MAHFUD semester  1 .

BAB II
PEMBAHASAN
1.      BERAT BADAN
Fisik atau tubuh manusia merupakan system organ yang kompleks dan sangat mengagumkan yang dapat di lihat dengan panca indera manusia daru luar. Semua organ ini terbentuk pada periode prenatal (dalam kandungan ibu). Pengenalan fisik Anak Usia Dini merupakan salah satu materi yang penting kita bahas dalam perkuliahan ini karena keterkaitan aspek fisik Anak Usia Dini menjadi hal penting dalam kelancaran proses pembelajaran di dalam suatu instansi Pendidikan Anak Usia Dini.
Perkembangan fisik adalah perkembangan-perkembangan dimana keterampilan motorik kasar dan halus sangat berkembang pesat. Penampilan, proporsi tubuh, berat, panjang badan dan keterampilan yang mereka miliki. Dengan bertambahnya usia, perbandingan antar bagian tubuh, akan berubah. letak grativitas makin berada dibawah tubuh; dengan demikian bagi anak yang makin berkembang usianya, keseimbangan tersebut ada di tungkai bagian bawah
Berat badan adalah ukuran yang lazim atau sering dipakai untuk menilai keadaan suatu gizi manusia.
Menurut Cipto Surono dalam Mabella 2000 : 10, mengatakan bahwa berat badan adalah ukuran tubuh dalam sisi beratnya yang ditimbang dalam keadaan berpakaian minimal tanpa perlengkapan apapun. Berat badan diukur dengan alat ukur berat badan dengan suatu satuan kilogram. Dengan mengetahui berat badan seseorang maka kita akan dapat memperkirakan tingkat kesehatan atau gizi seseorang. Berat badan dianjurkan untuk mengukur keadaan gizi karma

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi berat badan
Beberapa yang mempengaruhi berat badan adalah salah satunya makanan dan minuman. Dalam sehari kita membutuhkan gizi lengkap seperti :
1.Karbohidrat
2.Lemak
3.Protein
4.Vitamin dan mineral
Rumus Berat badan menurut umur (Soetjiningsih 1995, p.20) :
a. 3–12 bulan :
Umur (Bulan ) + 9
b. 1–6 tahun :
Umur (tahun) x 2 + 8
c. 6–12tahun :
Umur (Tahun) x7 – 5

2.TINGGI BADAN

Pengukuran tinggi badan digunakan untuk menilai status perbaikan gizi. Pengukuran ini dapat dilakukan dengan sangat mudah dalam menilai gangguan pertumbuhan dan perkembangan.
Tinggi Badan merupakan antropometri yang menggambarkan keadaan pertumbuhan skeletal. Pada keadaan normal, tinggi badan tumbuh seiring dengan pertambahan umur. Pertumbuhan tinggi badan tidak seperti berat badan, relatif kurang sensitif pada masalah kekurangan gizi dalam waktu singkat. Pengaruh defisiensi zat gizi terhadap tinggi badan akan nampak dalam waktu yang relatif lama.
Tinggi Badan (TB) merupakan parameter paling penting bagi keadaan yang telah lalu dan keadaan sekarang, jika umur tidak diketahui dengan tepat. Tinggi badan juga merupakan ukuran kedua yang penting, karena dengan menghubungkan berat badan terhadap tinggi badan (quac stick) faktor umur dapat dikesampingkan.Tinggi badan untuk anak kurang dari 2 tahun sering disebut dengan panjang badan. Saat baru lahir, panjang badan normal bayi adalah sekitar 45 cm-55 cm, Pada usia 0-3 bulan, panjang badan (PB) bayi normalnya mencapai 55 cm-60 cm, dengan kenaikan tiap bulannya yang tidak terlalu signifikan.
Pada usia 3-6 bulan, PB bayi normalnya mencapai 60,5 cm-65 cm. Kenaikan pada 3 bulan kedua ini cukup signifikan. Pada usia 6-9 bulan, PB si kecil normalnya sekitar 65 cm-71 cm, dengan kenaikan yang sangat signifikan pada 3 bulan ketiga ini. Hal ini disebabkan karena otot-otot penopang tubuh si kecil yang sudah mulai terstimulasi dengan semakin banyaknya gerakan yang dihasilkan serta jenis makanan yang sudah mulai beragam sehingga membantu proses pertumbuhan tulangnya.Pada usia 9-12 bulan, PB si kecil normalnya sekitar 71 cm-75 cm.


BAB III
DATA BERAT DAN TINGGI BADAN
SISWA RA AL MAHFUD
Kec Sukaresmi Kab Garut
Tabel data berat dan tinggi badan siswa RA AL MAHFUD semester  1
no
nama
berat badan
tinggi badan
1
sinta
17
110
2
faris
19
108
3
aulia
20
115
4
fani
18
111
5
intan
18
107
6
azam
17
109
7
amel
17
106
8
riki
17
105
9
tiara
20
117
10
Farhan
18
106
11
yesa
18
108
12
alif
16
113
13
raisa
15
100
14
ismi
15
102
15
kikim
14
103
16
nabila
16
109
17
najwa
17
107
18
akbar
18
106
19
kilma
16
105
20
erika
15
100


1.      BERAT BADAN

Persentase berat badan dalam bentuk grafik siswa RA AL MAHFUD semester 1





Berdasarkan dari data berat badan siswa RA AL MAHFUD Semester I yang telah diurutkan dari yang terkecil ke yang terbesar, dapat kita ketahui bahwa :

DATA : 14, 15 ,15, 15, 16, 16 ,16, 17, 17 ,17 ,17 ,17 ,17, 18 ,18 ,18 ,18 ,19 ,20 ,20

a. Jumlah data : 20
b. Jumlah nilai dari semua data : 340
c. Median (Nilai tengah) : 17
d. Modus (Nilai yang sering muncul) : 17
e. Rata-rata : (340 : 20) = 17
f. Nilai maksimal : 20
g. Nilai minimal : 14
h. Range (selisih antara nilai maksimal dan minimal) : 6
Nilai maksimal – Nilai minimal
20 – 14 = 6

2. TINGGI BADAN
Persentase tinggi badan dalam bentuk grafik siswa RA AL MAHFUD semester 1

Berdasarkan dari data tinggi badan siswa RA AL MAHFUD yang telah diurutkan dari yang terkecil ke yang terbesar, dapat kita ketahui bahwa :

Data : 100 ,100 ,102 ,103 ,105 ,105 ,106 ,106 ,106 ,107 ,107 ,108 ,108 ,109 ,109, 110 ,111 ,113 ,115,117


a. Jumlah data : 20
b. Jumlah nilai dari semua data : 2147
c. Median (Nilai tengah) : 107
d. Modus (Nilai yang sering muncul) : 106
e. Rata-rata : (2147 : 20) = 107,35
f. Nilai maksimal : 117
g. Nilai minimal : 100
h. Range (selisih antara nilai maksimal dan minimal) : 17
Nilai maksimal – Nilai minimal
117 – 100 = 17


BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Data berat badan siswa RA AL MAHFUD Semester I

Data berat badan yang terkumpul sebanyak 20, dari 21 data tersebut dapat diketahui bahwa nilai tengahnya adalah 17, nilai yang sering muncul adalah 17, nilai minimal adalah 14, nilai maksimal adalah 20, selisih antara nilai maksimal dan minimal adalah 6, dan untuk rata-ratanya adalah 17.

2. Data tinggi badan siswa RA AL MAHFUD Semester I

Data berat badan yang terkumpul sebanyak 20, dari 20 data tersebut dapat diketahui bahwa nilai tengahnya adalah 107, nilai yang sering muncul adalah 106, nilai minimal adalah 100, nilai maksimal adalah 117, selisih antara nilai maksimal dan minimal adalah 17, dan untuk rata-ratanya adalah 107,35. 


DAFTAR PUSTAKA


A.Markum, A.H. 1991. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.